Tampilkan postingan dengan label Modifikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Modifikasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2009

Yamaha V-ixion Berubah Menjadi Honda CBR 1100R

232525p

Pemodifikator Wardoyo dari Dave Motor Concept (DMC) terpaksa berpikir dan kerja keras menerima tantangan M.Safari, pemilik Yamaha V-ixion. Pasalnya, yang punya motor minta diubah tunggangannya jadi model moge, tapi bukan seperti Yamaha YZF R1 atau R6.

M.Safari justru minta dibikin mirip Honda CBR 1100 RR. Apa nggak pusing? Mau tak mau, Wardoyo terpaksa melakukan mutilasi lantaran harus keluar dari pakem. “Biasanya mengupgrade motor sport cruiser jadi motor sport tulen dan semerek. Tapi karena permintaan kon sumen, mesti dijalani,” papar pria yang praktik di ssawangan Depok.

Dasar tukang ‘mutilasi’, bukan manusia tapi pelat,  pekerjaan mengubah bentuk dinilainya tidak terlalu sulit. Apalagi dengan menggunakan pelat, lain hal jika memakai bahan fiber atau beli variasi bolt-on.

Bukti ucapan Wardoyo diperlihatkan pada fairing yang keseluruhannya dibentuk dari pelat. Supaya bentuk harmonis dan mendekati asli, lampu Honda vario dipilih, selain itu mudah didapat.

Tangki lantas ikut dipermak, mulai dari bentuk dan dimensinya agar serasi dengan fairingnya. Selain tangki, cover tengah hingga buritan perlu penyesuaian bentuk. Lagi-lagi dengan bantuan pelat dan dimensinya pun membengkak sekitar 5 cm ke kiri-kanan.

Modifikasi bagian burutin dibikin sedikit nungging, sesuai keinginan pemiliknya. Caranya, menurut Wardoyo, dengan terlebih dulu memanjangkan bagian tengah lengan ayun asli sekitar 7 cm dengan memakai pelat sekitar 7 cm yang diakali pada link unitrack.

Jadi deh, Honda CBR 1100 R.

Pemodifikator Wardoyo dari Dave Motor Concept (DMC) terpaksa berpikir dan kerja keras menerima tantangan M.Safari, pemilik Yamaha V-ixion. Pasalnya, yang punya motor minta diubah tunggangannya jadi model moge, tapi bukan seperti Yamaha FZF R1 atau R6.

M.Safari justru minta dibikin mirip Honda CBR 1100 RR. Apa nggak pusing? Mau tak mau, Wardoyo terpaksa melakukan mutilasi lantaran harus keluar dari pakem. “Biasanya mengupgrade motor sport cruiser jadi motor sport tulen dan semerek. Tapi karena permintaan kon sumen, mesti dijalani,” papar pria yang praktik di ssawangan Depok.

Dasar tukang ‘mutilasi’, bukan manusia tapi pelat,  pekerjaan mengubah bentuk dinilainya tidak terlalu sulit. Apalagi dengan menggunakan pelat, lain hal jika memakai bahan fiber atau beli variasi bolt-on.

Bukti ucapan Wardoyo diperlihatkan pada fairing yang keseluruhannya dibentuk dari pelat. Supaya bentuk harmonis dan mendekati asli, lampu Honda vario dipilih, selain itu mudah didapat.

Tangki lantas ikut dipermak, mulai dari bentuk dan dimensinya agar serasi dengan fairingnya. Selain tangki, cover tengah hingga buritan perlu penyesuaian bentuk. Lagi-lagi dengan bantuan pelat dan dimensinya pun membengkak sekitar 5 cm ke kiri-kanan.

Modifikasi bagian burutin dibikin sedikit nungging, sesuai keinginan pemiliknya. Caranya, menurut Wardoyo, dengan terlebih dulu memanjangkan bagian tengah lengan ayun asli sekitar 7 cm dengan memakai pelat sekitar 7 cm yang diakali pada link unitrack.

Jadi deh, Honda CBR 1100 R.

Sumber:otomotif.kompas.com

Modifikasi Jupiter MX Menjadi Motor Sport

0810483p

Kala melesat, orang sulit menebak motor apa itu? Kalaupun dapat menangkap logo di tangki bensin, Anda pasti menyebut Yamaha. Betul sekali, tapi Yamaha apa? Terkaan Anda, paling Yamaha V-ixion lantaran tangkinya.

Memang, Irfandi dari bengkel 2XP yang memodifikasi motor ini memakai tangki Yamaha V-ixion. Sesungguhnya, basis motor ini adalah jenis bebek dari Yamaha Jupiter MX 135LC, dan untuk mengubah jenis kelamin motor ini, Irfandi enggak banyak pakai limbah moge atau potong sasis sana-sini.

Kaki-kaki asli
"Rangka enggak ada yang dipotong-potong, aslinya masih dipertahankan," sebut builder dari Pontianak, Kalimantan Barat. Cukup bermain dengan bahan fiber, bagian belakang dibikin menungging, plus bodi tambahan. Jadi, kalau ingin balik ke standar, bisa dengan mudah dilakukan.

Bagian depan dipoles jadi kekar. Seperti sokbreker asli, bagian itu diganti dengan Ohlins Thailand, termasuk piringan cakram diganti yang lebih besar dan model racing. Untuk lampu utama bukan variasi, melainkan diambil punya Suzuki Spin 125.

Sosok motor jadi kekar, selain karena tangki, juga karena adanya penambahan deltabox. "Ini pakai limbah Aprilia, tapi tanpa merusak bodi karena prinsipnya bolt on," bangga pria dari kota Khatulistiwa ini. Pemasangannya pun tidak sulit, hanya mengandalkan dua baut, satu di atas dan satunya di bawah. Posisinya pun masih menggunakan lubang baut asli (untuk yang di kanan) karena yang atas memanfaatkan lubang kunci kontak dan bawahnya dari baut footstep.

Untuk sektor kaki-kaki, Irfandi masih banyak memakai aslinya, kecuali yang depan, pakai Ohlins, sedangkan lengan ayun masih standar. Menurut Irfandi, bagian itu hanya ditambahi pelat terutama buat bagian dudukan bawah shock. Sementara itu, monoshock bawaan standar masih dipertahankan.

Lantaran sudah ganti kelamin, telapak ban mau tak mau pakai yang lebih lebar. Roda depan pakai ukuran 2,15 inci, sedangkan belakang 3,5 inci dengan lingkar 17 inci. Peleknya dipilih variasi dari Tiger bermerek Sprint.

Kejelian Irfandi tampak pada sistem knalpot. Ia mendesainnya dengan model dua muffler dan kedua-duanya berfungsi yang jalurnya dipecah di bagian tengah. Selain berubah kelamin, karya Irfandi ini bisa dibilang begitu sempurna

sumber:otomotif.kompas.com

Minggu, 27 September 2009

Motor Teririt di Dunia

0812388p

Wow! Dengan 1 liter bensin, Bajaj Pulsar 200 DTSi bisa menempuh jarak sejauh 266 km. Barangkali motor dari India ini boleh diklaim sebagai yang teririt di dunia. Dikatakan oleh si pemiliknya, Hendry Martin ST, setiap bulan hanya diisi 5 liter bensin.

Setiap hari, rute motor jenis sport itu dari rumah ke kantor berjarak 26 km. Belum lagi, kata Martin, dibawa keliling rumah. Penasaran kan, kok bisa seirit itu? Bebek maupun skubek aja enggak ada yang bisa menempuh jarak di atas 100 km dengan 1 liter.

Saking penasarannya, tim Motor Plus pun menjajalnya, meski harus dua kali lantaran yang pertama ada kebocoran pada peralatan. Barulah uji kedua, dengan menempuh 16 km, menghabiskan bensin 60 ml. Jadi, kalau 1 liter (1.000 ml), motor bisa merayap sejauh 266 km. Padahal, standarnya Pulsar DTSi untuk 1 liter hanya mencapai 40 km.

Generator hidrogen
Martin bisa bikin motornya superirit hanya bermodalkan sekitar Rp 1,5 juta. Biaya itu untuk membeli berbagai peranti penghemat, seperti Xado Revitalisasi, DC Booster, CDI stabilizer, Xtreme Fire Booster, dan generator hidrogen. Dari semua peranti itu, generator hidrogen memberi pengaruh paling besar dan harga alatnya Rp 375.000 sudah termasuk ongkos pasang.

Keiritannya bisa mencapai 47,5 persen. Alat ini yang memproduksi air menjadi bahan bakar karena, kata Martin, generator memiliki elemen atau sel yang beresonansi setelah diberi arus listrik. "Akibat resonansi tadi, gas hidrogen dan oksigen yang ada di air keluar dan kemudian disalurkan ke karburator sehingga terjadi ledakan," bilang warga Lenteng Agung, Jakarta Selatan, ini.

Sistem penyaluran gas (hidrogen dan oksigen) melalui selang ke intake manifold yang di depan karburator. Karena itulah, bensin yang dikonsumsi jadi sangat sedikit sekali sebab energi pembakaran diraih dari oksigen dan hidrogen tambahan tadi.

Untuk mengisi air bisa dari air mineral dan volume tabung sekitar 300 ml. Jumlahnya tidak akan berkurang, hanya keruh, dan Martin menggantinya setiap tiga hari sekali.

Selain itu, Martin memakai Xado Revitalisasi, Turbo, dan Anti Carbon. Semacam cairan yang dicampur ke dalam oli mesin. Tujuannya, untuk mengembalikan kondisi jeroan mesin seperti baru. "Kompresi atau kualitas dalaman mesin setelah masa pakai tidak akan mempengaruhi performa," tegas pria yang kerja di Telkomsel ini.

Dengan kondisi mesin seperti baru, berarti gas tak perlu dibejek. Ujung-ujungnya, sedikit bensin yang terbakar, dan pemakaian cairan ini, diyakini Martin, memberi kontribusi sekitar 5 persen.

Dari bahan bakar, Martin coba mencegat pada sistem kelistrikan. Di sektor ini, ia menggunakan DC Booster yang dipasang paralel ke aki. Diestimasikannya, hal itu memberi keuntungan sampai 15 persen. "Dengan begitu, pembakaran jadi lebih sempurna," yakin pria asal Padang, Sumatera Barat.

Masih di kelistrikan, untuk menjaga kestabilan tegangan input CDI, supaya bekerja optimal, ditambah dengan stabilizer yang dipasang antara aki dan CDI. Alat ini menyumbang peran sekitar 10 persen.

Terakhir, Xtreme Fire Booster yang ditempatkan antara koil dan busi. Fungsinya memperkuat energi pengapian. Peran dalam pengiritannya, dinilai Martin, bisa sampai 20 persen.

Sumber:otomotif.kompas.com

Jumat, 25 September 2009

Yamaha Mio Berbody Sport?

mio

Yamaha Mio berubah kelamin, sudah itu, tampilannya sporty yang paling natural. Itu yang susah, dan menjadi nilai lebih buat Antonius Chandra yang memodifikasi skubek berlambang garputala ini. Bayangkan, kerangka sudah dipotong oleh bos Ton’s Chrome itu. Namun, dimensinya masih mengikuti aslinya.

Diakui oleh Antonius, rangka belakang yang dipotongnya mulai dari pegangan mesin. Sebagai gantinya, bagian itu dibuat dari pipa bulat sepanjang 60 cm. Perubahan ini tak lain untuk mendapatkan efek nungging yang menjadi ciri khas motor sport.

Selain buritan nungging, kerangka deltabox yang menjadi ciri khas motor sport tidak diabaikan Antonius. Meski di sini bikinannya bukan sebagai sasis, “Sekadar variasi untuk menahan tangki sekalian sebagai bracket footstep,” tegas Antonius.

Penutup bodi (fairing) dibuat sederhana tanpa banyak lekukan aneh. Ini disengaja dilakukan karena mengacu pada motor balap. Namun, pengerjaannya tetap mempertimbangkan hambatan angin.

Untuk bagian depan, agar sesuai tema, Antonius tidak mau ceroboh; terutama dalam pemakaian lampu karena, kalau salah pilih, bisa berantakan. Akhirnya, “Gue enggak mau gambling, makanya comot aja punya Honda CBR R150, kan sudah pasti sporty,” bilang Anton.

Di bagian buntut, model balap yang udah kental diperkuat lagi dengan bentuk knalpot. Model undertail sepasang, kata pria yang terobsesi meng-custom Harley-Davidson ini, sengaja dilapis krom agar tampak clean.

Harmonisasi bagian belakang kian kuat dengan adanya pemakaian lampu rem Suzuki Shogun. Walau kecil, lanjut Anton, itu fungsional dan bikin asyik tampilan.

Sumber:otomotif.kompas.com

Knalpot Yamaha Mio Bisa Berputar Seperti Senapan Gatling

0952518p knalpot

Untuk dipakai harian, tampilan Yamaha Mio Sporty dari Purwokerto ini kurang enak dilihat. Modifikasinya terkesan tanpa konsep dan kelihatan ramai. Siswo Winoto, builder dari Win's Paddock, Purwokerto, Jawa Tengah, seperti kehabisan ide kala menggarap skutik Yamaha produksi 2008 ini.

Pasalnya, sejal awal eksperimen pada Mio ini, ia justru ingin lepas dari aliran low rider dan hotrod. Kenyataannya, "Aku coba gabungkan konsep low rider dan hotrod. Jadinya matic fighter," ungkap Win, panggilan akrab Siswo Winoto.

Matic fighter karya Win tak bisa dibilang sebagai terobosan karena hasilnya mirip dengan streetfighter. Apalagi, di sini ditonjolkan pemangkasan sasis, dan tinggal 30 persen kerangka asli yang dipertahankan, termasuk komstir sampai down tube.

Untuk kerangka model teralis dari Ducati Monster yang ditransformasi ke skutik ini, Win menghabiskan pipa total 9 meter dengan diameter yang berbeda. Untuk kerangka utama, ia memakai pipa ukuran 3,4 inci sepanjang 4,5 meter, sedangkan untuk penyangga, ia menggunakan pipa 1,5 inci.

"Habis pipa sekitar 9 meter. Semua dibikin saling menunjang. Termasuk penunjang sokbreker belakang, itu harus hati-hati," ujar Win. Ia melanjutkan, jika salah konstruksi, pipa penahan beban dari sokbreker itu bisa bengkok.

Untuk finishing, bolehlah proses ini dikasih acungan jempol. Detail dan komposisi warna diracik apik. Namun, akan lebih menarik jika sumbu roda tidak mundur berlebihan, dan pemakaian setang tidak terlalu lebar.

Kendati begitu, ada yang menarik saat motor ini mengeluarkan asap. Ujung knalpot dengan beberapa lubang kecil—mirip senjata otomatis—akan berputar. Boleh juga, tuh.

Sumber: http://otomotif.kompas.com